Sabtu, 20 Desember 2008

Airsoft Gun, Bukan Sekadar Gagah-gagahan

Dua personil pasukan khusus bersenjata laras panjang masing-masing M16 dan AKA M, menelusuri lorong-lorong di wilayah perumahan dekat Sesko AD, Bandung. Pandangan mata penuh awas, menghadapi kemungkinan penyergapan tiba-tiba dari lawan.Tiar dan Acong, dua anggota pasukan khusus itu, bukanlah bertempur sungguhan. Senjata mereka pun bukanlah sungguhan, meski terlihat sangat mirip dengan senjata api. Keduanya adalah anggota AMX-Squad yang sangat menggemari hobi airsoft gun, replika senjata api bertenaga gerak pegas, gas, atau elektrik. Mereka tengah melakukan simulasi penyergapan.

Sehari-harinya, salah satu komunitas airsoft gun terbesar di Bandung ini sangat lah jarang bermain di daerah urban atau pemukiman warga. Berbeda dengan penggemar air soft kebanyakan, mereka lebih sering bertempur di medan tempur sungguhan, yaitu di padang rumput luas, perbukitan, bahkan sampai ke hutan-hutan sekunder. AMX-Squad saat ini memiliki setidaknya 155 anggota.

Tempat favorit skirmish (bertempur) antara lain di Cikole, Kavileri Parongpong, Cileungsi, dan sekitar Situ Lembang. Sebagian dari tempat-tempat ini bahkan kerap digunakan militer sungguhan untuk berlatih tempur. Koordinator Lapangan AMX Squad Yoga Prisembodo ditemui Jumat (19/12) mengatakan, medan-medan berat ini sengaja dipilih karena dapat meningkatkan kebugaran fisik para pemain.

Air soft gun bukanlah permainan anak-anak. Di da lamnya ada manfaat olahraga, melatih kewaspadaan dan juga kerjasama tim, ucap salah satu pendiri AMX-Squad ini. Bagaimana tidak dituntut kebugaran, fisik dan kewaspadaan kuat? Dalam satu permainan, setidaknya bisa berlangsung 6 jam. Tidak jarang, berlangsung dalam kondisi cuaca yang ekstrim, yaitu dingin dan berkabut.

Kejujuran

Menurut Ketua SAR (Seventy-five Airsoft Regimen) Andri Rahadian Arsanata, permainan air soft pada dasarnya mirip outbound. Di dalamnya itu ada unsur leadership, team work, dan kerjasama. "Bedanya, di sini, lebih bebas berinisiatif," ungkapnya. Faktor yang tidak kalah penting, adalah kejujuran dan sportivitas. Sebab, dalam permainan ini, tidak ada bukti seseorang itu telah tertembak atau tidak, kecuali bekas memar di bagian tubuh terbuka.

Satu-satunya penanda adalah kejujuran dan sikap ksatria pemain itu sendiri. "Ya, akhirnya semua dikembalikan ke pemain sendiri," ucapnya.

Pemain yang bermacam latar belakang, mulai dari pengacara, aktivis, dosen, arsitek, polisi, hingga mahasiswa menjadi cair dalam suasana. Tidak ada perbedaan. "Saat pemain yang mahasiswa kebetulan jadi leader, yang tua-tua pun sadar diri untuk menghargainya," ucapnya. Baginya, permainan airsoft gun , merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan impian masa kecilnya untuk bertempur .

Wilayah abu-abu

Airsoft gun bisa dikatakan hobi yang mahal. Satu unit senjata mainan, baik laras panjang atau pistol dapat dihargai belasan hingga puluhan juta. Jika, itu berkualitas bagus dari Jepang. Untuk kualitas menengah, buatan Taiwan dan Hongkong, dihargai Rp 2,5 juta 3,5 juta. Jenisnya pun bermacam-macam. Bahkan, ada replika gatling gun (senjata mesin) berbandrol Rp 80 juta yang mampu mengeluarkan 2 ribu peluru per menit. Peluru dari plastik berukuran 6 milimeter dan berat 0,2 gram.

Kecepatan peluru rata-rata 280-350 kaki per detik. Atau, seperempat dari ukuran kecepatan pistol sungguhan. Namun, 90 persen airsoft gun yang ada di pasaran saat ini masuk dari pasar gelap (black market ). Ketua AMX-Squad Adi Surahman mengatakan, legalitas airsoft gun di Indonesia masih berada di wilayah abu-abu. Masih ada anggapan umum, termasuk kepolisian, airsoft gun itu berbahaya dan dapat melukai.

Untuk memiliki airsoft gun, termasuk melegalan klub, juga masih sulit, terbentur persoalan izin yang tidak jelas dan tegas. Di Singapura dan Malaysia ini (airsoft gun) dilarang. Di Amerika, dibolehkan. Tetapi, pucuk airsoft diberi tanda warna kuning untuk membedakan dengan pistol sungguhan, jelasnya. Di klubnya ini, anggota dilarang keras gagah-gagahan memperlihatkan senjatanya di tempat umum. Hanya dipergunakan di saat bermain atau koleksi. Ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah penyalahgunaan mainan ini untuk tindakan krimi nal, misalnya menodong.(Sumber)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Antara (13) Anti Teror (20) Asia (27) Berita (48) Eropa (5) Feature (10) Indonesia (55) Industri Pertahanan (47) Intelijen (9) Kerja Sama (91) Konflik (42) Latihan Perang (48) Luar Negeri (43) Militer (101) Pameran Teknologi (30) PBB (44) Perang (4) Pertahanan (155) Polisi (5) Politik (62) Serah Terima Jabatan (1) Teknologi (91) Timur Tengah (6) TNI (105) TNI-AD (46) TNI-AL (140) TNI-AU (83) tnial (3) Today's Pic (7) US Army (2) War (2)
Diberdayakan oleh Blogger.
Defender Magazine