Pemerintah Indonesia merasa berkepentingan untuk ikut menandatangani Konvensi tentang Senjata Munisi Curah (Convention on Cluster Munitions), yang saat ini sidangnya tengah digelar di Oslo, Norwegia, dan diikuti sekitar 100-an negara dari seluruh dunia.
Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dari Oslo, seperti disampaikan kepada Kompas, Selasa (2/12), keterlibatan Indonesia itu ditempuh terkait upaya memajukan perdamaian dunia.
Selain itu Indonesia juga berkepentingan melindungi para anggota pasukan Indonesia, TNI dan Polri, yang sekarang tengah dan akan ditugaskan di kawasan konflik Lebanon dalam misi pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ”Para anggota Pasukan Garuda kita di Lebanon juga menghadapi bahaya bom curah buatan Israel, yang digunakan di dalam maupun di sepanjang kawasan perbatasan Lebanon-Israel,” ujar Juwono.
Menhan menjelaskan, selain dirinya delegasi Indonesia yang ikut dalam pertemuan itu juga terdiri dari Direktur Jenderal Multilateral Departemen Luar Negeri Reslan Jenie dan Wakil Asisten Operasi Mabes TNI Marsma Marsetio. ”Dalam waktu 16 tahun negara-negara yang tergabung dalam CCM secara bertahap akan mengurangi dan menghapus senjata jenis itu. Sekarang RI sendiri juga punya senjata amunisi curah buatan AS, yang disimpan di Pangkalan (TNI Angkatan Udara) Iswahjudi, Madiun. Secara bertahap kita akan hilangkan,” ujar Juwono.
Saat dihubungi terpisah, Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Marsda Sagom Tamboen membenarkan adanya ancaman bahaya itu walau sampai sekarang diketahui pasukan TNI dan Polri di Lebanon belum pernah mengalami langsung bahaya bom curah (cluster bomb), jenis yang pernah dipakai Amerika Serikat di Irak. ”Memang sampai sekarang belum ada pengalaman menghadapi senjata jenis itu, cuma kan kita tetap harus antisipasi di masa mendatang. Penandatanganan konvensi itu pastinya memang penting. Padahal pengiriman prajurit kita untuk misi-misi perdamaian kan diharap terus berlanjut,” ujar Sagom.
Sudah dilatih
Lebih lanjut, secara teknis pasukan TNI yang ditugaskan ke sana, menurut Sagom, sudah dilatih untuk menghadapi dan mengantisipasi senjata-senjata berbahaya teknologi baru, termasuk jenis bom curah tadi.
Saat ini sedikitnya terdapat 1.300 personel TNI dan Polri yang dilibatkan dalam Pasukan Garuda untuk misi menjaga perdamaian di Lebanon di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).
Rabu, 03 Desember 2008
Pasukan TNI-Polri di Lebanon Rawan Hadapi Bom Curah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
American soldiers from the 6th Squadron, 4th Cavalry exchanged fire with insurgent fighters from the combat outpost Lowell near Kamu, Afghan...
-
CIKEAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan anggaran pertahanan yang selama ini disebut banyak pihak masih minim dibandingkan kebu...
-
Komandan Grup-3 Komando Pasukan Khusus Kolonel Inf H.P. Lubis menjadi Inspektur Upacara pada pembukaan Latma Tiger-XII TA 2008, Senin (3/11)...
-
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo memberikan ceramah pembekalan kepada Perwira Tinggi di jajaran Kep...
-
Bangkok, (ANTARA News) - Perdana Menteri Thailand Somchai Wongsawat, Sabtu, mengatakan ia yakin perundingan dengan pemerintah Kamboja untuk ...
-
Walau masih dalam taraf penjajakan, kabar TNI AU bakal menerima 24 pesawat tempur Dassault Mirage 200-5 buatan Perancis mulai terdengar ke p...
-
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta pengamanan di Indonesia diperketat terkait ledakan bom dan serangan teroris di Mum...
-
Skuadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin kedatangan keluarga baru. Tak lain yakni 2 pesawat jet Shukoi dengan tipe SU 30 MK2 asal...
-
Anggota TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Kongo (Monuc), terlibat dalam operasi Search and Arrest bersama tiga negara lain ...
-
Latihan Bersama (Latma) Operasi Udara antara TNI Angkatan Udara dengan Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) telah berakhir yang ditandai den...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar